22 Maret 2016

Tuhan, saya minta mesin waktu

Tuhan,
saya mau minta mesin waktu
bukan untuk melihat apa gajahmada gemuk seperti di patungnya
bukan juga untuk tahu apa di masa depan rakyat di negeri ini beneran sudah sejahtera
saya cuma mau lihat senyumnya lagi
lima menit yang lalu dia tersenyum
manis sekali
tapi saya cuma bisa bengong
makanya, Tuhan,
saya mau minta mesin waktu
biar saya bisa setidaknya berucap
dia cantik sekali
di mata saya
dan selalu begitu, sejak pertama saya melihatnya

Tuhan,
saya mau minta mesin waktu
karena saya
telah
jatuh cinta lagi

16 Maret 2016

Secangkir Kopi Setangkup Roti

secangkir kopi
setangkup roti
kau berikan padaku pagi ini
tanpa satu kata
hanya sekuntum senyum malu-malu

terima kasih,
kataku hampir berbisik
dan seperti angin kaupun berlalu
meninggalkan wangi yang kusuka

lalu seharian lagi kuhabiskan lagi
hanya dengan mencecap kebahagiaan kecil
lewat secangkir kopi
lewat setangkup roti
namun sekuntum senyum malu-malumu
tak pernah lepas dari ingatanku

cinta tak harus bertabur cerita berisikan pangeran dan sang putri
cukuplah episode sederhana
dengan secangkir kopi
dan setangkup roti
setiap pagi

bahkan tak harus ada puisi
hanya tanganmu
memeluk pinggangku
saat nanti kuantar kau
dalam diam
namun bibir kita tersenyum

cukuplah itu buat kita.

Selamat Pagi

"selamat pagi",
dan senyummu menyapaku setiap kali
menghadirkan rasa yang tak kutahu itu apa
sekedar kesenangan yang kunantikan setiap harinya
hanya dengan memandangmu sekilas
dalam balutan warna yang kusuka

"selamat pagi", katamu
dan kucuma bisa terdiam
menatapimu tanpa bisa menyapa
apalagi setelah kemudian tawamu memenuhi udara
tapi tak mengapa karena
cukuplah aku bisa memandangimu
tanpa kau perlu tahu hatiku

"selamat pagi", katamu
dan kan kunantikan setiap pagi
kusimpan di ingatanku baik-baik
biar bisa kuputar ulang saat nanti kusendiri

15 Maret 2016

requiem

adalah angin yang mengabarkan tentangmu
: sunyi konon yang mengantarmu pulang
dan betapa kuhanya bisa beku
bertanya kenapa kematian
tak pernah bilang saat mau datang
setidaknya berikan kesempatan
buatku ucapkan selamat jalan



15 Desember 2011

Aku Cemburu

aku cemburu pada angin yang tadi membelaimu
sementara aku serupa bayangan
menatapimu dari kejauhan
berharap kau tak cepat pulang

25 November 2011

Dan Seperti Kemarin

dan seperti kemarin
kutangkap senyummu diam-diam
kusembunyikan dalam kotak kaca
biar bisa kunikmati lagi nanti malam

dan seperti kemarin
kutangkap renyah tawamu diam-diam
kubungkus rapi dan kutaruh di sudut kamar
biar bisa kudengarkan lagi nanti malam

dan seperti kemarin
kubeku lagi saat kau menatapku
dengan senyum itu
dan lalu lupa
dengan segala rencanaku
nanti malam

08 November 2011

Padahal

padahal baru sehari ini ku tak melihatmu
dan rindu sudah menggelayutiku
padahal baru sehari ini tak kulihat kau di situ
dan senyummu sudah memenuhi benakku
padahal kau bukan siapa-siapaku...

30 Desember 2010

Kutitipkan rindu

kutitipkan rindu
pada rinai gerimis tadi pagi
sudahkah kau menerimanya?

sudah kubungkus rapi semalam
dengan jalinan pita merah jambu
seperti warna kesukaanmu
sukakah kau menerimanya?

telah pula kumintakan izin pada Tuhan
bila kau mau singgah sejenak
di mimpiku malam ini
sudikah kau melakukannya?

aku pasti gembira
bila dapat menatapi senyum malu-malumu
yang kutahu kerap hinggap di bibirmu
seperti meronanya pipimu saat kita bertemu

tak usah takut pada angin
telah kujodohkan ia dengan sang malam
tak lama lagi mereka akan melangsungkan pernikahan
dan kau tak kan lagi diganggunya

maka
maukah kau menungguku?

20 Oktober 2010

Aku Pasti Sedih

aku pasti sedih
jika mesti kehilanganmu
aku pasti remuk
jika sampai kau tinggalkan
namun jika itu bisa membuatmu tersenyum
kan kucoba tuk ikut tersenyum
meski itu berarti kuharus
menahan perih
yang tak boleh kau tahu

01 Juli 2010

Tinggal ruang ini yang kumiliki

tinggal ruang ini yang kumiliki
ruang yang kuciptakan saat kuingin sendiri
tanpa kamu, tanpa yang lainnya
tanpa siapapun
atau apapun

tinggal ruangan ini yang tersisa
masih mau kau mengambilnya juga?

29 Juni 2010

Jangan Bersedih Ya

jangan bersedih ya
nanti kuambilkan rembulan
tuk menemanimu malam ini

jangan bersedih ya
nanti kupanggilkan bintang
biar ia bercerita tentang yang kau suka
sampai terlelap dirimu nanti

jangan bersedih ya
karena aku nanti
jadi ikut sedih

09 Juni 2010

Kaulah

kaulah embun pagi itu
yang menawarkan damai di hari-hariku
namun kutolak karena malu
kaulah matahari itu
yang membakarku dengan semangatmu
namun kutepis karena ragu
kaulah bintang itu
yang menerangi sisa malamku
namun kutolak karena takut
takut bila ku hanya jadi bayangan...

Aku Mau Di Sini Dulu

aku mau di sini dulu
sekadar melepas letih
dari beban yang menggayut
boleh kan?

aku mau di sini dulu
sekadar melepas penat
karena rindu yang tak terbagi
bolehkah?

aku mau di sini dulu
karena di sini aku bisa bersamamu
meski harus jadi bayangan dahulu...

19 Mei 2010

Bertemu lagi denganmu
menghadirkan lagi rasa suka itu
sekaligus
melemparkanku lagi pada masa lalu

17 Mei 2010

kenapa wajahmu ada di mana-mana?
di langit, di tembok di depanku, di antara kerumunan orang,
bahkan saat kumenatap istriku...

07 Mei 2010

Selamat malam, sayangku, selamat tidur
telah kusebutkan namamu
sebagai mantra
agar kau sudi singgah lagi
di mimpiku
jika kuberdoa agar Tuhan menjadikan kau jatuh hati kepadaku
bukankah itu berarti aku yang sebenarnya
jatuh hati kepadamu?

jika kuberharap dapat selalu di dekatmu
tidakkah itu berarti bahwa
aku membutuhkanmu?

06 Mei 2010

tak usah kau berdusta
bila ingin menghindariku
aku capek membangun harapan setiap hari

04 Mei 2010

Tuhan,
hadirkanlah ia lagi
di mimpiku
demi sebuah rindu yang
tak pernah dapat kutumpahkan

Tuhan,
hadirkan ia lagi
di mimpiku
karena hanya di situ kuberani
menikmati setiap kuntum senyum
yang bermekaran di bibirnya

tapi Tuhan,
jangan pernah Kau beritahu
hatiku padanya
nanti aku tak mampu
melanjutkan mimpiku...

27 April 2010

wajahmu mengingatkanku pada masa lalu
telaga teduh yang pernah begitu kurindu
jadi, menjauhlah dulu
karena aku sedang menguatkan hati
biar tak jatuh hati lagi

02 September 2008

Jangan bilang siapa-siapa
jika malam ini kau singgah di mimpiku
apalagi pada istriku
nanti dilemparkannya lagi aku dalam gamang tak berkesudahan
cukup satu senyum saja yang kan kucatat
dalam relung hati yang tersembunyi
dan biar itu terus di situ
sampai kau temui aku lagi nanti
saat jasadku terbaringkan di ranjang sepi

06 Agustus 2008

Seorang sahabat bercerita, ia sedang jatuh cinta. Kutanya pada siapa ia jatuh cinta. Katanya, "Aku jatuh cinta pada matahari, karena ia menerangi". Dan beberapa waktu kemudian, ia datang lagi padaku. Katanya, "Matahariku telah punya rembulan sebagai pasangan!" Wajahnya sedih, tapi masih ditampakkannya sekuntum senyum.

"Baiklah. Tapi lalu bagaimana?", tanyaku. Ia terdiam. Tapi hanya sejenak. "Aku masih mau jatuh cinta lagi. Tapi bukan pada matahari yang telah punya tambatan hati."

"Lalu pada siapa?"

"Aku belum tahu", katanya sambil tersenyum. Manis sekali. "Suatu saat nanti, aku yakin, pangeranku pasti datang. Mungkin bukan seorang pangeran. Mungkin hanya seseorang yang sederhana. Tapi bila dia memang pasanganku kelak, sesungguhnya ia adalah pangeranku!".

Dan tiba-tiba wajahnya jadi sumringah. Aku tahu, ia sudah siap untuk jatuh cinta lagi. Dan mungkin siap juga untuk kembali sakit lagi. Tapi bukankan hidup memang begitu? Kita tak pernah tahu rencana Tuhan. Kadang, kita tidak menyukai hal-hal yang Ia takdirkan dalam hidup kita. Tapi sekali lagi, itulah hidup. Suka atau tidak, kau harus tetap menjalaninya. Bersyukur untuk segala yang kau punya saat ini. Sesuatu yang belum tentu orang lain miliki. Bukankan begitu?

Dan ia, sahabatku itu, kurasa sepenuhnya menyadari hal tersebut. Satu hal yang paling kusyukuri adalah bahwa ia masih memilih untuk terus hidup.

Itu yang paling penting. Kita dilahirkan untuk hidup, hadir, dan melulu hadir.

23 Mei 2008

Pagi menghampiriku lagi
dengan segumpal sepi yang ia taruh di meja sarapanku
senyumnya gamang
"Maaf", katanya, "Hanya itu yang kubawa kali ini."
dan ia lalu pergi
bergegas seperti tergesa mengikuti arus waktu
meninggalkanku di hari yang baru jadi

15 Desember 2006

Jangan Tanya

Jangan tanya kenapa kenapa kau hadir di mimpiku
bukankah kau yang singgah
dan meninggalkan sekuntum senyum
pada hati yang keletihan?

Jangan tanya kenapa rindu untukmu hadir di hatiku
karena seperti biasa,
rindu tak pernah dapat kumengerti

Jangan tanya kenapa aku tergagap setiap di dekatmu
karena bagaimana dapat kujelaskan
tentang perasaan yang lebih suka kupendam

Jangan tanya kenapa kumenjauhimu
karena sulit bagiku mengatakan
bahwa menghindarimu adalah sebuah pengharapan
agar kutak semakin terpuruk dalam pesonamu!

09 September 2006

Buat apa kebenaran kalau tak boleh diberitakan, dan malah tergantikan dengan kebohongan yang membusukkan? Buat apa kejujuran jika dilarang dan malah diubah menjadi kepura-puraan yang memuakkan?

22 Juni 2006

Tak Mungkin Kau Kuberitahu

Tak mungkin kau kuberitahu hatiku
Bukan kutak ingin
Justru karena takut kau lari lagi seperti angin
Dan resah lagi aku dalam hampa
Namun bila tetap kau mau tahu
Simak saja segala sikapku
Nanti kan tau juga kau bagaimana aku

Setan Itu Bernama Rindu

Setan itu bernama rindu
Yang menggedor pintuku
Saat kuingin terlelap

Dalam mimpi atau bukan sama saja
Di langit atau di langit langit
Yang tergambar cuma dirimu

Kenapa tak datang besok pagi saja
Biar bisa kupandangi wajahmu
Daripada sekarang hanya terbayang
Bagaimana malam kau lewati bersama suamimu…

10 Oktober 2005

Kukumpulkan rindu di sebuah buku
Seperti album foto
yang sebagiannya berisi gambarmu
dan sebagiannya lagi adalah lagu kesepian

Angin jadi temanku sekarang
setelah pantai yang kutuju menolakku
karena aku cuma seekor camar
camar yang keletihan
menginginkan rumah tuk pulang
mendambakan pantai yang tak menganggapku sebagai mahluk asing

Kau tak menganggapku sebagai mahluk asing,
sayangku, tak pernah, seperti yang kaututurkan dalam sikap keseharian
Tapi aku jenuh hanya berada di teras
Tidakkah kau ingin mengundangku ke dalam?
Biar dapat kubercerita tanpa orang lain tahu
Betapa cinta yang kumiliki ternyata menyakitiku sendiri

Hidup memang tak boleh banyak mengeluh
Seperti katamu dulu, bahwa penerimaan selalu menghasilkan kesukaan
bahwa kepasrahan pada takdir yang kupunya akan berujung pada kebahagiaan

Tapi, sayangku, angin yang membawaku pada gumpalan awan yang melayang
cuma menawarkan kegamangan
juga pada lautan yang dulu begitu kucintai
karena mempersembahkan hidupnya untuk banyak mahluk lainnya

Ya, inilah aku sekarang
Seekor camar yang letih
dan gamang
bingung mesti tetap jadi camar
atau berubah menjadi ayam
dan siap dijadikan hidangan...

01 Maret 2005

Berdiri perempuan itu di hadapanku
tepat di hadapanku
senyumnya adalah telaga teduh
aku mau berenang terus di situ
atau duduk di tepiannya
memetik gitar
nyanyikan lagu kesepian
atau melukisi langit di atasnya
dengan gambar kerinduan

Ah! Dan kini ia malah menyapaku
suaranya renyah
dan aku mabuk
tenggelam dalam pusaran pesonanya
apalagi saat tawanya pecah
"Kamu kenapa?" tanyanya

Sialan! Lututku malah jadi goyah, sekarang
saat ia perlahan menghampiriku
Pergilah! Aku lagi lemah, lagi rapuh
nanti aku jatuh cinta lagi padamu
padahal sudah susah payah kubentengi hatiku
semata agar kau tak lari lagi seperti angin
dan meninggalkanku dalam resah tak berkesudahan

Jemarinya halus menggenggam anganku

Tapi lalu datang lagi seorang kawan
dan punah sudah episode hayalanku!

20 Januari 2005

episode

dan perempuan itu menoleh
mengirimkan rindunya lewat gelombang hipnotis
tapi percuma saja, karena
"kenapa kau memandangku seperti itu?"
karena aku menginginkanmu, bodoh!
tidakkah kau tahu
sudah kupertahankan susah payah hatiku
dari angin yang terus menggoda
atau kesepian yang selalu mengejek
"tidak. tidak ada apa-apa.
aku hanya senang memandangimu seperti itu"
akhirnya perempuan itu mendesah
dan sang lelaki hanya mengerenyitkan keningnya
mungkin tidak mengerti. atau memang dungu.
kemudian rembulan menghampiri mereka
dengan gaun yang begitu anggun
dan sang lelaki terpesona
saat rembulan mengajaknya pergi
ia menoleh pada si perempuan
seperti meminta persetujuan
"pergilah. aku tak apa-apa di sini."
dan rembulan membawa sang lelaki terbang
naik pada cahaya yang ia pinjam dari pacarnya
tinggallah si perempuan sendiri
merasa gamang
dan akhirnya menggamit angin yang telah menunggunya
naik vespa mereka menyusuri jakarta
menikmati malam yang diciptakan dan ditinggalkan
membaur bersama orang-orang lain di jalanan
yang penat
letih